Bukan Urusan Saya

Seorang teman mempublikasikan status yang menunjuk sebuah gambar. Di gambar itu dijajarkan 4 hasil pencarian di Google dengan kata kunci “bukan urusan saya” yang subjeknya adalah 4 selebriti termasuk presiden RI yang sekarang. Dan berdasarkan gambar tersebut, terlihat bahwa hasil pencarian yang relevan dengan kata kunci ditemukan terbanyak pada subjek Pak Jokowi. Ini menunjukkan bahwa di antara keempat orang itu topik “bukan urusan saya” paling dekat dengan beliau. Tentu saja hasilnya bisa berbeda jika diterapkan ke orang yang berbeda.

Frase “bukan urusan saya” memang sedang naik daun. Yang menaikkannya ya pak Jokowi sendiri. Berawal ketika beliau menjabat sebagai Gubernur DKI hingga kini sebagai Presiden RI. Beberapa pernyataan memang tidak berbungi persis seperti itu, namun secara tersirat punya makna yang berdekatan (http://news.okezone.com/read/2014/12/05/337/1074939/seberapa-sering-jokowi-bilang-bukan-urusan-saya). Hahaha… ada-ada saja yang iseng menghitung frekuensinya.

Jika frase itu diucapkan oleh saya, maka efeknya tidak sedahsyat jika yang mengatakan adalah seorang presiden. Mengapa? Presiden itu pimpinan rakyat. Rakyat dapat mengacu, mengikuti, atau meniru sikap dan perilaku dari pemimpin. Apa jadinya jika frase itu tidak hanya ditiru pengucapannya saja namun telah masuk ke pemikiran dan menjadi kerangka berpikir? Mungkin saja kan jika terjadi perulangan yang berasal dari apa yang selalu didengar dan dilihat.

Dulu saja, sebelum frase ini populer, orang masih buang sampah sembarangan, merokok tak kenal tempat, sindir menyindir di media sosial, hingga perilaku mengambil hak orang lain. Sekarang, saya rasa diperparah dengan beredarnya frase ini. Orang dengan mudahnya melanggar peraturan yang tidak merugikan dirinya secara langsung namun bisa saja merugikan orang lain dengan alasan “bukan urusan saya kok”. “Memangnya kenapa kalau saya buang sampah di sungai? Toh yang banjir di hilir sana, jadi bukan urusan saya kaannn”, padahal yang tinggal di hilir-lah yang merasakan akibatnya. “Memangnya kenapa kalau saya perempuan dan merokok di tempat umum? Kalau perbuatan saya menurut anda tidak beretika, bukan urusan saya kan”. Dan kalimat-kalimat sejenis yang dilontarkan sebagai pembenaran dari sebuah tindakan melanggar aturan, norma, dan etika.

Saya jadi tidak habis pikir, apakah bapak presiden tidak menyadari betapa penting posisinya saat ini? Betapa kata-kata dan tindakan seremeh apapun akan disorot bahkan bisa ditirukan oleh bawahan dan rakyatnya. Menurut saya, sebagai seorang pemimpin harusnya lebih berhati-hati dalam berkata-kata dan bersikap. Nasehat ini sebenarnya juga berlaku umum. Apalagi bagi seorang muslim yang meyakini bahwa semua kata-kata dan perbuatannya akan dicatat dan jika itu membawa kebaikan bagi orang lain maka akan juga baik untuk dirinya dan jika sebaliknya maka dia juga turut mendapatkan dosanya.

Wallahu’alam

 

Salam hangat,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s