Cooking for a Working Mom

Bagi sebagian suami, memasak merupakan salah satu ketrampilan wajib bagi seorang wanita terutama bila dia sudah berstatus istri. Tak terkecuali bagi seorang working mother seperti saya. Banyak kaum wanita yang setuju dengan hal ini, namun ada juga yang menolaknya. Kaum yang menolak, salah satunya sahabat saya yang juga bekerja, beranggapan bahwa memasak merupakan salah satu aktivitas yang ‘membuang-buang waktu’ mengingat saat di rumah merupakan momen yang berharga dan sayang kalau hanya dipakai untuk memasak.

Saya, sebelum menikah, termasuk yang sedikit menolak juga karena dulu saya tidak suka dan tidak pandai memasak (meskipun sekarang juga). Namun, setelah menikah anggapan saya berubah. Saya jadi suka masak. Memasak untuk keluarga, meskipun dg resep yang sederhana, memberikan kepuasan tersendiri bagi saya. Melihat anak-anak dan suami menyantap dengan lahap kreasi masakan saya membuat saya merasa diterima dan dicintai. Hahaha…. lebay ah.

Memasak bagi saya bukanlah aktivitas yang membuang-buang waktu meskipun memang banyak waktu tersita untuk menyiapkan bahan2 dan mengolahnya. Saya paling suka mencoba resep2 baru terutama menu yang direkomendasikan oleh teman. Mungkin ini memang karakter saya yang suka melakukan hal-hal baru, salah satunya mencoba resep2 baru. Salah satu poin yang turut andil dalam merubah persepsi saya adalah bahwa memasak itu ibadah juga. Ibadah karena memasak merupakan bagian dari pelayanan saya kepada keluarga yang siapa tahu bisa menjadi sarana turunnya ridho suami. Jadi, kalau diniatkan ibadah, maka waktu yang terpakai pun akan dihitung pahala, insyaAllah.

Saya tidak menyalahkan para istri yang tidak suka dan tidak mau memasak. Bisa jadi memang para suaminya tidak mewajibkan itu atau para suaminya lah yang meminta istrinya untuk fokus pada hal lain, misalnya merawat dan mendidik anak atau aktivitas sosial kemasyarakatan, atau alasan-alasan lainnya. Yang jelas, apapun aktivitasnya, selama mendukung seorang wanita menjadi istri dan ibu salihah, maka tak ada salahnya untuk dilakukan.

Bagaimana pendapat anda?

Salam,

Tujuh

Belum lama rasanya saya membuat keputusan mau menikah, kemudian diperkenalkan kepada seseorang oleh teman baik saya dan selanjutnya segalanya dimudahkan oleh Allah sehingga saya pun menyandang peran baru sebagai seorang istri.

Belum lama rasanya saya menjalani setahun pertama pernikahan yang penuh liku, suka duka, dan asam garam yang justru menjadikan saya lebih ‘dewasa’ dalam kehidupan.

Tujuh tahun. Lama atau singkat? Terasa singkat ketika rumah berasa surga dan terasa lama jika sebaliknya.

Meskipun saat ini saya merasakan kebahagiaan dalam menjalani rumah tangga, saya juga tetap harus bersiap-siap menghadapi tantangan yang lebih besar nantinya. Suami dan anak adalah ujian bagi seorang istri. Apabila ingin agar hasilnya nanti baik, maka istri harus banyak belajar supaya siap menghadapi ujian.  Kuncinya adalah sabar dan ikhlas, meskipun berat tetap harus dipaksakan seperti itu. Tanpa kesabaran maka persoalan tidak akan terselesaikan dengan baik dan tanpa keikhlasan maka amal yang telah dilakukan akan sia-sia.