Semangat!

Sudah seminggu ini saya mencoba fokus mengerjakan tesis. Mumpung ada kesempatan, mumpung sedang off mengajar, mumpung anak-anak masih libur, dan alasan-alasan lain. Tapi, sampai sekarang masih belum punya gambaran utuh tentang bagaimana implementasi algoritma genetika untuk optimasi data latih JST. Sudah beberapa potong kode dilihat dan dipelajari, bukannya mendapat pencerahan, malah rasanya bertumpuk-tumpuk, rasanya rasioku seperti diaduk-aduk, seperti benang ruwet yang tak keliatan ujung pangkalnya.

Ooh… jadi teringat masa-masa pengerjaan TA jaman S1 dulu. Berpusing-pusing sendiri, mau nanya pembimbing rasanya tidak mungkin, nanya teman seperjuangan juga repot karena mereka juga sedang mengalami persoalan yang sama, jadi… aah… dipikir dan dipendam sendiri. Sempat galau, sempat sedih, sempat nyaris putus asa, bahkan sempat berpikir rasanya tidak mungkin akan selesai. Namun, Allah memberi banyak kemudahan dan keajaiban hingga akhirnya selesai juga TA saya.

Pengalaman dan perasaan yang sama juga saya rasakan saat ini, di kala proses penyelesaian tesis. Satu hal yang terus-menerus kutanamkan adalah bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan, bahwa Allah punya rencana yang indah untukku, bahwa segala sesuatu ada momennya dan sudah direncanakan dengan rapi oleh-Nya, bahwa apapun pastilah ada solusinya, sehingga bisa memberikan energi tambahan ketika hati saya ingin mengalihkan perhatian dari tesis ini karena tidak tahan dengan tantangannya.

Ada ide dan saran untuk meminta bantuan pihak ketiga untuk menyelesaikan tesis ini, tapi saya ingin ada kepuasan yang besar ketika tesis ini selesai oleh tangan saya sendiri (walaupun pastinya dengan banyak bantuan dari pihak lain). Selama masih ada titik terang, selama internet masih bisa diakses, selama masih ada yang bisa dibaca dan ditanya, maka saya tidak boleh menyerah. Kalau hari ini tidak ada kemajuan atau malah menemui kegagalan, yakinlah bahwa mungkin besok atau besoknya lagi akan ada langkah kecil atau besar yang akan  mendekatkan saya pada penyelesaian. Ada Allah yang Maha Tahu, yang Maha Kuasa, yang Maha Besar yang dapat membantu saya.

 

Apa salahnya bersikap subyektif ?

 

Beberapa bulan terakhir, saya menjalankan 2 peran yang saling berlawanan yaitu sebagai dosen pembimbing dan sebagai seorang mahasiswa bimbingan. Setelah menjalani kedua peran tersebut secara bergantian, saya jadi memperoleh kesimpulan bahwa wajar saja ketika seorang pembimbing menjadi sangat subyektif terhadap mahasiswa-mahasiswa bimbingannya. Subyektif disini saya artikan sebagai perlakuan yang berbeda antara mahasiswa bimbingan yang satu dengan yang lainnya.

Seorang mahasiswa yang rajin datang, mencatat dengan baik masukan dan revisi dari pembimbing, memperbaiki proses pengerjaan sesuai arahan pembing, dan memiliki etika yang baik ketika berkomunikasi dengan pembimbing tentu punya daya tarik berbeda dibandingkan mahasiswa yang menunda-nunda bimbingan, tidak tanggap dengan arahan pembimbing, dan kurang beretika saat berkomunikasi dengan pembimbing. Saya sendiri sebagai pembimbing merasakan subyektifitas itu dan ini tak dapat dihindari.
Nah, apakah hal ini salah?
Tiap orang menuai apa yang telah ditanamnya. Akan tidak adil, menurut saya, jika saya memberikan perlakuan yang sama untuk mahasiswa bimbingan yang rajin & tidak rajin. Di saat mahasiswa A benar-benar mengerjakan revisi secara maksimal dan disertai tutur kata yang sopan ketika berdialog, sedangkan mahasiswa B yang sering tidak mencatat dengan rajin masukan dari pembimbing, tidak mau belajar serius sehingga tidak juga bisa mengerjakan revisi dari dosen, apalagi sopan santunnya kurang, mana mungkin saya memberi nilai yang sama.

Justru menurut saya, itu bukan lagi subyektifitas, malah sebuah bentuk obyektifitas karena memperlakukan orang lain sebagaimana dia bersikap. Subyektivitas yang salah adalah pilih kasih karena hubungan saudara semata atau karena pernah diberi hadiah oleh si mahasiswa misalnya. Saya justru menganggap inilah yang disebut adil, memberikan seseorang sesuai dengan haknya. Saya tetap memberikan hak kepada mahasiswa yang saya anggap kurang baik yaitu mendapatkan pendampingan selama pengerjaan tugas akhir. Saya tidak akan mengurangi nilainya karena malas belajar, tapi jujur saja, saya juga tidak akan memberikan nilai maksimal untuk mahasiswa yang seperti itu.
Jadi, jika saya seorang mahasiswa bimbingan, saya akan berusaha untuk mengambil hati pembimbing dengan cara memperhatikan dengn baik arahan & masukannya, menulis laporan serapi mungkin, serta berkomunikasi santun dengan dosen pembimbing. Pembimbing kan juga manusia, rasanya bersikap subyektif itu juga sebuah hal yang manusiawi.

 

Wassalaam,

Tujuh

Belum lama rasanya saya membuat keputusan mau menikah, kemudian diperkenalkan kepada seseorang oleh teman baik saya dan selanjutnya segalanya dimudahkan oleh Allah sehingga saya pun menyandang peran baru sebagai seorang istri.

Belum lama rasanya saya menjalani setahun pertama pernikahan yang penuh liku, suka duka, dan asam garam yang justru menjadikan saya lebih ‘dewasa’ dalam kehidupan.

Tujuh tahun. Lama atau singkat? Terasa singkat ketika rumah berasa surga dan terasa lama jika sebaliknya.

Meskipun saat ini saya merasakan kebahagiaan dalam menjalani rumah tangga, saya juga tetap harus bersiap-siap menghadapi tantangan yang lebih besar nantinya. Suami dan anak adalah ujian bagi seorang istri. Apabila ingin agar hasilnya nanti baik, maka istri harus banyak belajar supaya siap menghadapi ujian.  Kuncinya adalah sabar dan ikhlas, meskipun berat tetap harus dipaksakan seperti itu. Tanpa kesabaran maka persoalan tidak akan terselesaikan dengan baik dan tanpa keikhlasan maka amal yang telah dilakukan akan sia-sia.

Rasa Kehilangan

Seandainya, kita punya sebuah benda berharga, sebuah gelang emas misalnya, tiba-tiba kita menyadari bahwa gelang tersebut tidak lagi melingkar di pergelangan tangan kita, apa yang kita rasakan? Kalau itu saya, maka saya akan merasa sangat sedih. Gelang yang dibeli dengan hasil kerja halal selama berbulan-bulan, yang harganya tidak murah, yang sangat kita rawat, yang serasa belum puas memakainya, kemudian tiba-tiba hilang tanpa diketahui di mana atau kapan kejadiannya, saya rasa wajar kalau menjadikan kesedihan hati. Besar atau kecil kehilangan kita? Besar, mungkin.

Seandainya, kita memiliki seorang suami/istri, kemudian karena suatu sebab, kecelakaan misalnya, sehingga pasangan hidup kita menjadi tiada, apa yang kita rasakan? Kalau saya, saya akan sedih tak terkira.  Saya rasa semua orang juga begitu. Seseorang yang kita sayang, kita butuhkan kehadirannya, seorang pasangan hidup, alangkah sedih rasanya jika harus kehilangannya. Rasanya belum puas kita bersama dengannya. Masih banyak hal yang ingin kita bagi bersama dengannya. Apakah kita sanggup melanjutkan hidup tanpanya? Besar atau kecil kehilangan kita? Besar, mungkin.

Coba kita bandingkan dua perumpamaan di atas, menurut anda mana kehilangan yang terbesar? Jika hanya kita lihat secara sempit, maka keduanya terasa besar. Namun, jika kita mau melihat lebih luas, maka kehilangan apapun bisa terasa ringan. Menurut saya, kehilangan sebuah perhiasan tidak ada apa-apanya dibandingkan kehilangan pasangan hidup. Saya malah harus bersyukur karena saya hanya kehilangan perhiasan dan bukan istri/suami saya. Saya masih punya nikmat lain yang tidak hilang dari saya.

Mungkin memang seharusnya begitu ketika menyikapi sebuah kehilangan. Sesuatu yang selalu ada tidak akan terasa maknanya hingga kita kehilangan itu. Namun, ketika pun hilang, tidak seharusnya berlarut-larut memikirkannya. Ada banyak saudara yang kehilangan lebih besar daripada kita. Satu lagi, apapun yang kita miliki di dunia, merupakan titipan dari Allah, milik Allah. Jadi, kapanpun diambil kita harus siap.

 

Kerja saat ‘gak mood’

Mood jika diterjemahkan artinya adalah suasana hati. Sejauh manakah hubungan antara suasana hati dengan produktivitas kerja? Jawabnya, tergantung seberapa besar pengaruh sebuah kejadian terhadap suasana hati kita. Jika kita merespon sepenuh hati terhadap sebuah masalah maka bisa jadi suasana hati kita sangat terpengaruh dengan hal itu. Sebagai contoh, misalnya tadi sebelum berangkat kerja tiba-tiba si adek menangis tersedu-sedu dan tidak mau dilepaskan dari pelukan, seperti sangat ingin ditemani oleh umminya. Antara ya dan tidak untuk memaksanya melepaskan pelukan. Antara tega dan tidak tega. Antara mendisiplinkan dan memanjakan. Alhasil, rasanya suasana hati saya masih terpengaruh kejadian tadi.  Efeknya, rasanya ingin segera pulang ke rumah.

Lantas, apakah kita biarkan suasana hati menjadikan kita tidak produktif? Tentu tidak. Tentunya, kita sudah punya rencana apa-apa saja yang ingin dikerjakan satu hari ini. Kita tentu sudah punya rencana teknis apa-apa saja yang perlu dilakukan. Kerjakan rencana kita seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Usahakan tercapai apa-apa yang kita targetkan. Memang, kalau terpaksa, bolehlah kita tunda beberapa hal yang memang belum dibutuhkan dalam waktu dekat, asal kita komitmen dan ingat untuk menyelesaikannya di hari lain. Intinya adalah jangan sampai kita tidak melakukan apa-apa dengan alasan ‘lagi gak mood’.