Fastfood

Menurut Wikipedia, makanan cepat saji atau fastfood adalah istilah untuk makanan yang dapat disiapkan dan dilayankan dengan cepat. Sementara makanan apapun yang dapat disiapkan dengan segera dapat disebut makanan siap saji, biasanya istilah ini merujuk kepada makanan yang dijual di sebuah restoran atau toko dengan persiapan yang berkualitas rendah dan dilayankan kepada pelanggan dalam sebuah bentuk paket untuk dibawa pergi. Konsep fastfood ternyata telah dikenal sejak jaman lampau. Antara lain Romawi dengan roti dan minyak zaitunnya, Asia Timur dengan stand mie-nya, dan India dengan bhelpuri dan panipuri-nya.

Saat ini, fastfood identik dengan resto-resto yang menjual makanan-makanan impor seperti burger, pizza, dan ayam crispy. Banyak orang tergoda untuk ikut menikmati sajian fastfood ini. Beberapa alasannya antara lain rasanya yang lezat dan tidak perlu berlama-lama menunggu penyiapannya. Padahal, makanan-makanan jenis ini memiliki beberapa efek samping negatif misalnya menimbulkan kanker dan obesitas. Meskipun efek negatif ini telah banyak disosialisasikan, konsumen tampaknya tidak terlalu ambil pusing. Hal ini tampak dari selalu ramainya resto-resto fastfood dan makin banyaknya cabang resto jenis ini dalam kota yang sama. Gencarnya ajakan untuk mulai meninggalkan fastfood ternyata diikuti oleh makin bersemangatnya resto-resto tsb untuk memancing konsumen.

Beberapa trik yang dilakukan antara lain memposisikan resto sebagai ajang bersosialisasi sehingga menarik banyak orang untuk sekedar bertemu atau ngobrol, sengaja menyebarkan aroma-aroma mengundang di sekitar resto, meningkatkan fasilitas dan kenyamanan resto misalnya dengan menyediakan sarana drive-through dimana konsumen tidak perlu turun dari mobil untuk memesan makanan, dan menyediakan makanan dalam porsi jumbo (kalau perlu pakai ember) sehingga pelanggan tidak cepat-cepat meninggalkan resto.

Selain itu, ada beberapa fakta tentang fastfood yang kita perlu tahu, misalnya bahwa :

1. dalam satu porsi hamburger, digunakan daging dari 100 sapi yang berbeda

2. mesin soda fountain mengandung bakteri fecal dimana hal ini ditunjukkan oleh adanya jejak bakteri pada dispenser soda

3. kentang goreng lebih buruk dari burger keju karena mengandung lebih banyak lemak dan kalori

4. milkshake strawberry mengandung lebih dari 50 bahan kimia yang berbeda.

 

Nah, setelah mencermati fakta tentang fastfood (jaman sekarang), masihkah tertarik membelinya ?

 

Sumber :

http://www.okefood.com/read/2013/12/30/299/919145/9-fakta-mengejutkan-tentang-makanan-cepat-saji http://www.beritasatu.com/kesehatan/161462-terungkap-trik-restoran-cepat-saji-agar-pelanggannya-selalu-datang.html

 

Cooking for a Working Mom

Bagi sebagian suami, memasak merupakan salah satu ketrampilan wajib bagi seorang wanita terutama bila dia sudah berstatus istri. Tak terkecuali bagi seorang working mother seperti saya. Banyak kaum wanita yang setuju dengan hal ini, namun ada juga yang menolaknya. Kaum yang menolak, salah satunya sahabat saya yang juga bekerja, beranggapan bahwa memasak merupakan salah satu aktivitas yang ‘membuang-buang waktu’ mengingat saat di rumah merupakan momen yang berharga dan sayang kalau hanya dipakai untuk memasak.

Saya, sebelum menikah, termasuk yang sedikit menolak juga karena dulu saya tidak suka dan tidak pandai memasak (meskipun sekarang juga). Namun, setelah menikah anggapan saya berubah. Saya jadi suka masak. Memasak untuk keluarga, meskipun dg resep yang sederhana, memberikan kepuasan tersendiri bagi saya. Melihat anak-anak dan suami menyantap dengan lahap kreasi masakan saya membuat saya merasa diterima dan dicintai. Hahaha…. lebay ah.

Memasak bagi saya bukanlah aktivitas yang membuang-buang waktu meskipun memang banyak waktu tersita untuk menyiapkan bahan2 dan mengolahnya. Saya paling suka mencoba resep2 baru terutama menu yang direkomendasikan oleh teman. Mungkin ini memang karakter saya yang suka melakukan hal-hal baru, salah satunya mencoba resep2 baru. Salah satu poin yang turut andil dalam merubah persepsi saya adalah bahwa memasak itu ibadah juga. Ibadah karena memasak merupakan bagian dari pelayanan saya kepada keluarga yang siapa tahu bisa menjadi sarana turunnya ridho suami. Jadi, kalau diniatkan ibadah, maka waktu yang terpakai pun akan dihitung pahala, insyaAllah.

Saya tidak menyalahkan para istri yang tidak suka dan tidak mau memasak. Bisa jadi memang para suaminya tidak mewajibkan itu atau para suaminya lah yang meminta istrinya untuk fokus pada hal lain, misalnya merawat dan mendidik anak atau aktivitas sosial kemasyarakatan, atau alasan-alasan lainnya. Yang jelas, apapun aktivitasnya, selama mendukung seorang wanita menjadi istri dan ibu salihah, maka tak ada salahnya untuk dilakukan.

Bagaimana pendapat anda?

Salam,

Semangat!

Sudah seminggu ini saya mencoba fokus mengerjakan tesis. Mumpung ada kesempatan, mumpung sedang off mengajar, mumpung anak-anak masih libur, dan alasan-alasan lain. Tapi, sampai sekarang masih belum punya gambaran utuh tentang bagaimana implementasi algoritma genetika untuk optimasi data latih JST. Sudah beberapa potong kode dilihat dan dipelajari, bukannya mendapat pencerahan, malah rasanya bertumpuk-tumpuk, rasanya rasioku seperti diaduk-aduk, seperti benang ruwet yang tak keliatan ujung pangkalnya.

Ooh… jadi teringat masa-masa pengerjaan TA jaman S1 dulu. Berpusing-pusing sendiri, mau nanya pembimbing rasanya tidak mungkin, nanya teman seperjuangan juga repot karena mereka juga sedang mengalami persoalan yang sama, jadi… aah… dipikir dan dipendam sendiri. Sempat galau, sempat sedih, sempat nyaris putus asa, bahkan sempat berpikir rasanya tidak mungkin akan selesai. Namun, Allah memberi banyak kemudahan dan keajaiban hingga akhirnya selesai juga TA saya.

Pengalaman dan perasaan yang sama juga saya rasakan saat ini, di kala proses penyelesaian tesis. Satu hal yang terus-menerus kutanamkan adalah bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan, bahwa Allah punya rencana yang indah untukku, bahwa segala sesuatu ada momennya dan sudah direncanakan dengan rapi oleh-Nya, bahwa apapun pastilah ada solusinya, sehingga bisa memberikan energi tambahan ketika hati saya ingin mengalihkan perhatian dari tesis ini karena tidak tahan dengan tantangannya.

Ada ide dan saran untuk meminta bantuan pihak ketiga untuk menyelesaikan tesis ini, tapi saya ingin ada kepuasan yang besar ketika tesis ini selesai oleh tangan saya sendiri (walaupun pastinya dengan banyak bantuan dari pihak lain). Selama masih ada titik terang, selama internet masih bisa diakses, selama masih ada yang bisa dibaca dan ditanya, maka saya tidak boleh menyerah. Kalau hari ini tidak ada kemajuan atau malah menemui kegagalan, yakinlah bahwa mungkin besok atau besoknya lagi akan ada langkah kecil atau besar yang akan  mendekatkan saya pada penyelesaian. Ada Allah yang Maha Tahu, yang Maha Kuasa, yang Maha Besar yang dapat membantu saya.

 

Apa salahnya bersikap subyektif ?

 

Beberapa bulan terakhir, saya menjalankan 2 peran yang saling berlawanan yaitu sebagai dosen pembimbing dan sebagai seorang mahasiswa bimbingan. Setelah menjalani kedua peran tersebut secara bergantian, saya jadi memperoleh kesimpulan bahwa wajar saja ketika seorang pembimbing menjadi sangat subyektif terhadap mahasiswa-mahasiswa bimbingannya. Subyektif disini saya artikan sebagai perlakuan yang berbeda antara mahasiswa bimbingan yang satu dengan yang lainnya.

Seorang mahasiswa yang rajin datang, mencatat dengan baik masukan dan revisi dari pembimbing, memperbaiki proses pengerjaan sesuai arahan pembing, dan memiliki etika yang baik ketika berkomunikasi dengan pembimbing tentu punya daya tarik berbeda dibandingkan mahasiswa yang menunda-nunda bimbingan, tidak tanggap dengan arahan pembimbing, dan kurang beretika saat berkomunikasi dengan pembimbing. Saya sendiri sebagai pembimbing merasakan subyektifitas itu dan ini tak dapat dihindari.
Nah, apakah hal ini salah?
Tiap orang menuai apa yang telah ditanamnya. Akan tidak adil, menurut saya, jika saya memberikan perlakuan yang sama untuk mahasiswa bimbingan yang rajin & tidak rajin. Di saat mahasiswa A benar-benar mengerjakan revisi secara maksimal dan disertai tutur kata yang sopan ketika berdialog, sedangkan mahasiswa B yang sering tidak mencatat dengan rajin masukan dari pembimbing, tidak mau belajar serius sehingga tidak juga bisa mengerjakan revisi dari dosen, apalagi sopan santunnya kurang, mana mungkin saya memberi nilai yang sama.

Justru menurut saya, itu bukan lagi subyektifitas, malah sebuah bentuk obyektifitas karena memperlakukan orang lain sebagaimana dia bersikap. Subyektivitas yang salah adalah pilih kasih karena hubungan saudara semata atau karena pernah diberi hadiah oleh si mahasiswa misalnya. Saya justru menganggap inilah yang disebut adil, memberikan seseorang sesuai dengan haknya. Saya tetap memberikan hak kepada mahasiswa yang saya anggap kurang baik yaitu mendapatkan pendampingan selama pengerjaan tugas akhir. Saya tidak akan mengurangi nilainya karena malas belajar, tapi jujur saja, saya juga tidak akan memberikan nilai maksimal untuk mahasiswa yang seperti itu.
Jadi, jika saya seorang mahasiswa bimbingan, saya akan berusaha untuk mengambil hati pembimbing dengan cara memperhatikan dengn baik arahan & masukannya, menulis laporan serapi mungkin, serta berkomunikasi santun dengan dosen pembimbing. Pembimbing kan juga manusia, rasanya bersikap subyektif itu juga sebuah hal yang manusiawi.

 

Wassalaam,

Tujuh

Belum lama rasanya saya membuat keputusan mau menikah, kemudian diperkenalkan kepada seseorang oleh teman baik saya dan selanjutnya segalanya dimudahkan oleh Allah sehingga saya pun menyandang peran baru sebagai seorang istri.

Belum lama rasanya saya menjalani setahun pertama pernikahan yang penuh liku, suka duka, dan asam garam yang justru menjadikan saya lebih ‘dewasa’ dalam kehidupan.

Tujuh tahun. Lama atau singkat? Terasa singkat ketika rumah berasa surga dan terasa lama jika sebaliknya.

Meskipun saat ini saya merasakan kebahagiaan dalam menjalani rumah tangga, saya juga tetap harus bersiap-siap menghadapi tantangan yang lebih besar nantinya. Suami dan anak adalah ujian bagi seorang istri. Apabila ingin agar hasilnya nanti baik, maka istri harus banyak belajar supaya siap menghadapi ujian.  Kuncinya adalah sabar dan ikhlas, meskipun berat tetap harus dipaksakan seperti itu. Tanpa kesabaran maka persoalan tidak akan terselesaikan dengan baik dan tanpa keikhlasan maka amal yang telah dilakukan akan sia-sia.

Rasa Kehilangan

Seandainya, kita punya sebuah benda berharga, sebuah gelang emas misalnya, tiba-tiba kita menyadari bahwa gelang tersebut tidak lagi melingkar di pergelangan tangan kita, apa yang kita rasakan? Kalau itu saya, maka saya akan merasa sangat sedih. Gelang yang dibeli dengan hasil kerja halal selama berbulan-bulan, yang harganya tidak murah, yang sangat kita rawat, yang serasa belum puas memakainya, kemudian tiba-tiba hilang tanpa diketahui di mana atau kapan kejadiannya, saya rasa wajar kalau menjadikan kesedihan hati. Besar atau kecil kehilangan kita? Besar, mungkin.

Seandainya, kita memiliki seorang suami/istri, kemudian karena suatu sebab, kecelakaan misalnya, sehingga pasangan hidup kita menjadi tiada, apa yang kita rasakan? Kalau saya, saya akan sedih tak terkira.  Saya rasa semua orang juga begitu. Seseorang yang kita sayang, kita butuhkan kehadirannya, seorang pasangan hidup, alangkah sedih rasanya jika harus kehilangannya. Rasanya belum puas kita bersama dengannya. Masih banyak hal yang ingin kita bagi bersama dengannya. Apakah kita sanggup melanjutkan hidup tanpanya? Besar atau kecil kehilangan kita? Besar, mungkin.

Coba kita bandingkan dua perumpamaan di atas, menurut anda mana kehilangan yang terbesar? Jika hanya kita lihat secara sempit, maka keduanya terasa besar. Namun, jika kita mau melihat lebih luas, maka kehilangan apapun bisa terasa ringan. Menurut saya, kehilangan sebuah perhiasan tidak ada apa-apanya dibandingkan kehilangan pasangan hidup. Saya malah harus bersyukur karena saya hanya kehilangan perhiasan dan bukan istri/suami saya. Saya masih punya nikmat lain yang tidak hilang dari saya.

Mungkin memang seharusnya begitu ketika menyikapi sebuah kehilangan. Sesuatu yang selalu ada tidak akan terasa maknanya hingga kita kehilangan itu. Namun, ketika pun hilang, tidak seharusnya berlarut-larut memikirkannya. Ada banyak saudara yang kehilangan lebih besar daripada kita. Satu lagi, apapun yang kita miliki di dunia, merupakan titipan dari Allah, milik Allah. Jadi, kapanpun diambil kita harus siap.

 

Kerja saat ‘gak mood’

Mood jika diterjemahkan artinya adalah suasana hati. Sejauh manakah hubungan antara suasana hati dengan produktivitas kerja? Jawabnya, tergantung seberapa besar pengaruh sebuah kejadian terhadap suasana hati kita. Jika kita merespon sepenuh hati terhadap sebuah masalah maka bisa jadi suasana hati kita sangat terpengaruh dengan hal itu. Sebagai contoh, misalnya tadi sebelum berangkat kerja tiba-tiba si adek menangis tersedu-sedu dan tidak mau dilepaskan dari pelukan, seperti sangat ingin ditemani oleh umminya. Antara ya dan tidak untuk memaksanya melepaskan pelukan. Antara tega dan tidak tega. Antara mendisiplinkan dan memanjakan. Alhasil, rasanya suasana hati saya masih terpengaruh kejadian tadi.  Efeknya, rasanya ingin segera pulang ke rumah.

Lantas, apakah kita biarkan suasana hati menjadikan kita tidak produktif? Tentu tidak. Tentunya, kita sudah punya rencana apa-apa saja yang ingin dikerjakan satu hari ini. Kita tentu sudah punya rencana teknis apa-apa saja yang perlu dilakukan. Kerjakan rencana kita seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Usahakan tercapai apa-apa yang kita targetkan. Memang, kalau terpaksa, bolehlah kita tunda beberapa hal yang memang belum dibutuhkan dalam waktu dekat, asal kita komitmen dan ingat untuk menyelesaikannya di hari lain. Intinya adalah jangan sampai kita tidak melakukan apa-apa dengan alasan ‘lagi gak mood’.