Beberapa bulan terakhir, saya menjalankan 2 peran yang saling berlawanan yaitu sebagai dosen pembimbing dan sebagai seorang mahasiswa bimbingan. Setelah menjalani kedua peran tersebut secara bergantian, saya jadi memperoleh kesimpulan bahwa wajar saja ketika seorang pembimbing menjadi sangat subyektif terhadap mahasiswa-mahasiswa bimbingannya. Subyektif disini saya artikan sebagai perlakuan yang berbeda antara mahasiswa bimbingan yang satu dengan yang lainnya.
Seorang mahasiswa yang rajin datang, mencatat dengan baik masukan dan revisi dari pembimbing, memperbaiki proses pengerjaan sesuai arahan pembing, dan memiliki etika yang baik ketika berkomunikasi dengan pembimbing tentu punya daya tarik berbeda dibandingkan mahasiswa yang menunda-nunda bimbingan, tidak tanggap dengan arahan pembimbing, dan kurang beretika saat berkomunikasi dengan pembimbing. Saya sendiri sebagai pembimbing merasakan subyektifitas itu dan ini tak dapat dihindari.
Nah, apakah hal ini salah?
Tiap orang menuai apa yang telah ditanamnya. Akan tidak adil, menurut saya, jika saya memberikan perlakuan yang sama untuk mahasiswa bimbingan yang rajin & tidak rajin. Di saat mahasiswa A benar-benar mengerjakan revisi secara maksimal dan disertai tutur kata yang sopan ketika berdialog, sedangkan mahasiswa B yang sering tidak mencatat dengan rajin masukan dari pembimbing, tidak mau belajar serius sehingga tidak juga bisa mengerjakan revisi dari dosen, apalagi sopan santunnya kurang, mana mungkin saya memberi nilai yang sama.
Justru menurut saya, itu bukan lagi subyektifitas, malah sebuah bentuk obyektifitas karena memperlakukan orang lain sebagaimana dia bersikap. Subyektivitas yang salah adalah pilih kasih karena hubungan saudara semata atau karena pernah diberi hadiah oleh si mahasiswa misalnya. Saya justru menganggap inilah yang disebut adil, memberikan seseorang sesuai dengan haknya. Saya tetap memberikan hak kepada mahasiswa yang saya anggap kurang baik yaitu mendapatkan pendampingan selama pengerjaan tugas akhir. Saya tidak akan mengurangi nilainya karena malas belajar, tapi jujur saja, saya juga tidak akan memberikan nilai maksimal untuk mahasiswa yang seperti itu.
Jadi, jika saya seorang mahasiswa bimbingan, saya akan berusaha untuk mengambil hati pembimbing dengan cara memperhatikan dengn baik arahan & masukannya, menulis laporan serapi mungkin, serta berkomunikasi santun dengan dosen pembimbing. Pembimbing kan juga manusia, rasanya bersikap subyektif itu juga sebuah hal yang manusiawi.
Wassalaam,
